News
Surat Terbuka Timo Scheunemann Pasca Indonesia Dilanda Terror
13 May 2018
Undepo.com -

Peristiwa terorisme terjadi di Indonesia selama sepekan terakhir ini mengundang keprihatinan Timo Scheunemann. Eks Direktur Pembinaan Usia Muda PSSI ini mengungkapkan kegundahan dan keprihatinannya melalui surat terbuka.

Dalam suratnya, Timo mengisyaratkan kegeraman dan kesedihannya akan ulah teroris, yang merusak sendi-sendi kebangsaan dan kemanusiaan. Namun, pria berdarah Jerman ini menolak untuk membalas dendam bagi para pelaku terorisme tersebut.

Sebaliknya, pria berusia 44 tahun tersebut menegaskan, cara untuk pulih dari luka akibat terorisme ini adalah dengan kembali ke kasih sayang.

"Justru sekarang KASIH semakin dibutuhkan untuk mematikan api-api kebencian diantara kita. Ingat ajaran Alkitab, kalau kita hanya mengasihi orang yang baik kepada kita apa bedanya kita dengan penjahat, pembunuh, pemerkosa, dll? Tidak, kasihilah musuhmu, kata Yesus, basuhlah kaki orang-orang di sekitarmu seperti yang dilakukan Yesus. Saat Yesus dibunuh, ia mengatakan, 'Ampunilah mereka ya Tuhan karena mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan!'," tuturnya.

Timo juga berharap teror ini tak sampai melebar dan menimbulkan provokasi baru. Ia berhadap, seluruh umat beragama di Indonesia tetap berdiri dan berjuang bersama, seperti yang selama ini dilakukan.

"Friends, baik muslim maupun kristen, budha dan hindu, lets stand together, jangan mau terprovokasi! Demi pertemanan kita, demi kehidupan bersama yang tenang dan majemuk, dan demi Indonesia yang kita cintai," mantan pelatih Persema Malang ini berharap.

Lebih lanjut, Timo mengungkapkan kerinduannya pada situasi Indonesia, pada masa kecilnya. Waktu itu, Timo -anak seorang pendeta dari Jerman- bisa berteman akrab dengan tetangganya, yang meruapak anak seorang pemuka agama Islam.

"Tetangga saya, Ateng, adalah anak seorang modin. Sementara, saya adalah anak pendeta. Namun, kami bersahabat," ujar Timo, pada Bola.net.

"Kami sama-sama mengejar layang-layang putus di sawah, main bulu tangkis, main sepakbola sampai kaki bengkak semua. Namun, kami sama sekali tak pernah membawa-bawa isu agama. Inilah Indonesia menurut saya dan saya rindukan," ia menandaskan.


Berikut selengkapnya surat terbuka Timo Scheunemann, yang juga dimuat di akun facebooknya.

Dear friends,

Di tengah sikon politik yang semakin panas menjelang 2019, di tengah kurang tegasnya pemerintah terhadap kelompok radikal, hukuman yang tidak memberikan efek jera terhadap teroris yang mau menghancurkan kebhinekaan kita sebagai bangsa indONEsia, di tengah semakin tampaknya kultur “kalian” dan “kami” yang menyulitkan pengamalan sila persatuan Indonesia, di tengah itu semua, saya berdoa kita semua bisa saling mengasihi lebih dan lebih lagi.

Justru sekarang KASIH semakin dibutuhkan untuk mematikan api-api kebencian diantara kita. Ingat ajaran Alkitab, kalau kita hanya mengasihi orang yang baik kepada kita apa bedanya kita dengan penjahat, pembunuh, pemerkosa, dll? Tidak, kasihilah musuhmu, kata Yesus, basuhlah kaki orang-orang di sekitarmu seperti yang dilakukan Yesus. Saat Yesus dibunuh, ia mengatakan “Ampunilah mereka ya Tuhan karena mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan!”

Karena itu saya ajak kita semua berdoa untuk mereka yang membom gereja2 di surabaya pagi ini.. berdoa bagi yang membunuh lima polisi beberapa hari lalu, berdoa untuk isis.. meminta Tuhan mengampuni mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan. Berat bro, berat, tapi itulah kehendak Tuhan seperti dicontohkan Yesus. Lebih berat lagi, kita harus berdoa hal yang sama saat kejadian serupa menimpa kita pribadi. Doa saya kita semua bisa mengatakan hal yang sama, “Tuhan ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan”, ikhlas tanpa dendam , saat kejadian menimpa kita sendiri.

Semakin kita mendekat kepada Tuhan yang maha pengasih sudah seharusnya kebencian semakin menjauh dan kasih semakin mendominasi kehidupan kita.

Selama kita belum mati, selama kita masih hidup dalam dunia yang penuh dengan misteri ini, tidak ada satupun diantara kita yang berhak memaksakan kepercayaannya pada orang lain. Boleh yakin, monggo, justru memang harus yakin. Buat apa beribadah, atau melakukan apapun juga, bila tidak yakin? Tapi ingat itu semua adalah keyakinan, iman, yang tidak bisa dibuktikan. Kalau bisa dibuktikan bukan iman namanya. Karena itu logis bahwa kita harus saling tenggang rasa.

Buat apa saling adu argumentasi, apalagi dalam kondisi masyarakat yang belum siap. Argumen hanya akan melahirkan kontra argumen, satu bahasan akan dikaitkan dengan bahasan lain yang sebenarnya tidak relevan. Tidak, sebaiknya, demi Indonesia kita tercinta, kita tidak saling adu argumen, kita saling adu KASIH saja. That way we become one, not seperate.

Friends, baik muslim maupun kristen, budha dan hindu, lets stand together, jangan mau terprovokasi! Demi pertemanan kita, demi kehidupan bersama yang tenang dan majemuk, dan demi Indonesia yang kita cintai!

Saya bukan pendeta seperti ayah saya, dan super jarang saya membuat status seperti ini, tapi hati saya berduka sangat mendalam melihat istri saya terus menangis pagi ini. Maaf, saya membutuhkan outlet, salah satunya menulis ini.

May God bless Indonesia, may God bless us all!

Love to all my muslim friends, my fellow christian friends, love to my hindu, confucian, and budhist friends (i am a huge fan of Buddha and Kon Fu Tsu), and love to my many awesome atheist friends.

Your friend,
Timo
nr 1 bon jovi and kierkegaard fan


Return to Index